Dulu Sujud Syukur, Sekarang Lapor Polisi Pergeseran Cara Pandang Orang Tua

Admin_sma21jkt/ Januari 29, 2026/ Berita

Dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami perubahan sosiologis yang sangat drastis terkait relasi antara guru dan wali murid di sekolah. Dahulu, orang tua menitipkan anak mereka dengan penuh kepercayaan total agar dididik menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Mereka bahkan merasa Sujud Syukur ketika anaknya mendapatkan bimbingan disiplin yang tegas dari guru.

Pola asuh masa lalu cenderung memposisikan guru sebagai orang tua kedua yang memiliki otoritas penuh dalam mendidik karakter siswa. Ketegasan guru dianggap sebagai bentuk kasih sayang demi masa depan anak yang lebih baik dan lebih terarah. Orang tua akan melakukan Sujud Syukur jika anaknya berhasil lulus dengan mentalitas pejuang yang sangat tangguh.

Namun, seiring berjalannya waktu, pergeseran cara pandang mulai terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran akan hak asasi anak secara individu. Tindakan pendisiplinan yang dulunya dianggap wajar, kini sering kali dipandang sebagai bentuk kekerasan atau intimidasi fisik yang dilarang. Hilang sudah tradisi Sujud Syukur dari orang tua yang menghargai ketegasan para pendidik.

Kini, laporan kepolisian menjadi jalan pintas yang sering diambil oleh orang tua ketika merasa anaknya diperlakukan tidak adil. Guru yang berniat mendisiplinkan justru terjebak dalam masalah hukum yang panjang dan sangat menguras energi serta mental. Kondisi ini membuat momen Sujud Syukur atas keberhasilan pendidikan karakter menjadi sesuatu yang sangat langka.

Komersialisasi pendidikan juga dituding sebagai salah satu penyebab utama perubahan sikap orang tua yang menjadi jauh lebih reaktif. Karena merasa sudah membayar mahal, sebagian wali murid merasa berhak mendikte cara guru dalam memberikan pengajaran di dalam kelas. Hal ini merusak marwah profesi guru yang seharusnya dihormati sebagai pemberi ilmu yang sangat berjasa.

Sinergi antara sekolah dan keluarga harus dibangun kembali melalui komunikasi yang lebih transparan, jujur, dan penuh rasa saling menghormati. Orang tua perlu memahami bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga pembentukan mentalitas yang kuat. Tanpa kepercayaan, proses belajar mengajar tidak akan pernah bisa mencapai tujuan yang diharapkan secara maksimal.

Share this Post